Jumat, 09 Maret 2012

nyoret part 2 Masa Kecil Kurang Mederita


"Bersakit-sakit dahulu lalu kapan bahagianya kalo udah sakit?"

 
Okehh.. Mungkin ini bagian dari catatan gue pasca keberhasilan gue keluar dari kutukan nulis yang mungkin kekuatan misitisnya equal dengan kutukan malin kundang level 7. Walaupun sebenarnya rada maksain ya gue tetap nyoba buat ngembangin hal yang gue yakini salah satu bakat terpendam sangat dalam yang gue miliki, Menulis ! Bakat yang asumsi gue merupakan bakat alami KW super gue ini akan gue coba tuangin dalam bentuk coretan-coretan absurb plus garing dengan harapan mampu memiliki pencapaian kesataraan dengan karya-karyanya picasso, Tufik Hidayat, ataupun Dewa Budhana. Tsaaaahh !!!

Berbicara tentang bakat, ada satu hal yang paling gue yakini dengan penuh percaya diri dan sangat gue yakini walaupun pada akhirnya sampai saat ini semua belum terbukti yaitu gue anak yang multi-talent. Gue gatau keyakinan ini datang entah dari mana, apakah saat ketika gue lagi bengong di tengah sawah, atau ketika gue lagi boker di pinggir danau deket rumah atau saat ketika gue mandi di pancoran atau temapt mandi umum belakang rumah, Salah satu bukti kalo gue sangat memegang teguh keyakinan ini adalah gue pernah memiliki ambisi bisa nguasain berbagai jenis keterampilan, mulai dari music sampai olah raga. Semuanya gue lakuin dengan satu tujuan demi meraih popularitas yang tak kunjung datang. Tapi sayangnya,  kalo dilihat dari sisi yang objektif, sebenarnya gue anak yang memiliki keterampilan pas-pasan, suram dan blur banget. Dimulai dari phisically gue  kurus, item, dekil, jelek, ingusan.. saking ga teganya gue deskripsiin, masih mending gorengan gosong yang masih ada rasa dari pada gue saat itu ! Dan yang paling gue syukuri saaat ini ini adalah ga banyak foto atau album kenangan gue di masa kecil sehingga gue bisa kubur aib itu,,,
Dongeng-dongengnya yang pernah gue dengar dari para sesepuh di sekitar rumah, waktu kecil gue mungkin termasuk anak yang hiperaktif. Parahnya hiperaktifnya gue beralih fungsi dan disalah gunakan oleh gue sendiri. Moment-moment yang pernah tercatat dalam hidp gue sebagai hasil dari hiperaktif hitam ini diantaranya jatoh ke selokan, kepala bocor gara-gara dilempar batu sampe ditabrak angkot gara-gara lari-larian di jalan raya. Gue gatau tau apakah harus bersyukur atau berkufur dari nikmat ini.
Waktu kecil gue juga pernah pengen banget bercita-cita jadi pemain bola. Semua dimulai dari suatu ketika abang gue pulang ke rumah dan bawa poster tim sepak bola trus ditempelin di kamar. Kalo ga salah, posternya tim italia, parma, salah satu tim sepakbola liga italia yang pada waktu itu ada bintang argentina juan sebastian veron dan Gabriel batistuta. Ironinya, sebelumnya gue paling ga suka nonton acara sepak bola di TV karna ga tau kenapa gue bingung liat suara supporter kayak tawon tapi kelihatan seperti semut dan gue pusing tiap nonton bola. Saat itu gue lebih milih sinetron "tersanjung" yang saat itu lagi ngetren-ngetrennya ketimbang acara bola. Tapi siapa sangka tindakan kak gue itu bisa mengubah jalan hidup gue dan terhindar dari program transgender sebagai bentuk akibat dari pengaruh adiktif drama sinetron terhadap perkembagan psikologi anak lagi-lagi. 
Keesokan harinya gue berinisiatif ngajak temen-temen kecil gue buat main bola. Gue ngajakin si rahmat yang notabenenya punya banyak mainan saat itu. Dengan berbagai bentuk propaganda-propaganda gue yang sporadis, akhirnya gue berhasil ngajak dia main pake bola plastik punya dia. Gue dan teman-teman lainnya memulai debut bermain sepak bola dengan lapangan minimalis yang ukurannya cuma 3x6 meter. Yang namanya anak-anak kampung kalo main pasti ga bakalan jauh dengan main di jalan yang rada lapang, nyeker, dan seruduk sana-sini. Bener,,, gue salah satunnya yang main ga karuan. Tendang sana tendang sini. Dan akhirnya, bencana terjadi ditengah kemelut. Sepertinya tuhan jengkel dan  ngirim makhluknya buat ngasih pelajaran atas permainan ga karuan gue. apalah mau dikata, niat hati ingin mencoba tendangan ala ronaldo namun yang terjadi gue nendang batu besar dipinggir lapangan. Sakit perih dan terluka dalam. Kuku telunjuk kaki gue nyaris lepas dan berdarah, darahnya merah bukan biru. Tragedi ini membuat jiwa gue terguncang, harapan gue pada saat itu adalah gue digotong pake tandu ke pinggir lapangan lalu diberi perawatan oleh tim medis. Tapi perihnya kuku copot ini ngebangunin gue dari lamunan. Temen-temen gue cuma bisa liatin dari jauh tanpa berkata apa-apa. Gue yakin dalam hati mereka berkata 
"Mampus lu ! siapa surh main ga karuan kaya babi pake sepatu roda gitu"
 Dengan penuh air mata, gue akhirnya memutuskan untuk lari ke rumah untuk minta diobati. Dengan menahan sakit gue lari sekencang-kencangnya kerumah, seperti adengan kotaro minami megejar merry baron di episode terakhir Satria Baja Hitam RX. 
Sesampainya di rumah, gue masih nagis tersedu persis kayak tangisan si Indah "Tersanjung" waktu lagi sedih . Beberapa saat kemudian, bokap gue datang nyamperin gue. Yang kebanyang saat itu bokap seolah seorang super hero bagaikan ultramen taro yang keluar dari bawah tanah dan siap buat nyelamatin gue yang lagi jatuh dari atas gedung bertingkat di Jakarta. Gue terkesima banget, speechless atas kedatangan bokap. Tiba-tiba,,
“Knapa lagi sih kamu ?????” teriak bokap dengan nada kesel.
Jleeeeeeeb… gue semakin rapuh, lemah dan semakin tak berdaya, udah jatuh ketimpa tangga trus dilemparin tai kebo dan disiram air comberan! Tangis gue pun semakin galau. Melihat situasi seperti itu, bokap terempati dan akhirnya melakukan pertolongna pertama secepat mungkin. Kuku jempol gue yang saat itu 50:50 antara nempel dan tidak nemepel harus segera diambil keputusan. Akhirnya, setelah menganalisis beberapa saat, bokap mutusin buat nyabut itu kuku biar ntar ga infeksi, gue pasrah dan lalu pura-pura mati…
Setelah peristiwa tersebut gue kepaksa ngejalanin perawatan penyembuahan kurang lebih 2 bulan sampe kuku kai gue kembali seperti semula. Tapi gue ga pernah kapok main bola lagi karena gue mencoba belajar dari kesalahan. Pelajaran yang dapat gue ambil dari kejadian tersebut adalah apalah lah rasa sakit ynag di derita kuku copot dari pada suka sama seorang cewek yang ternyata lebih menukai teman kita. Salam,, pipis, love, and gaul.

0 komentar:

Posting Komentar