Selasa, 24 Juni 2014

Nyoret part 9

Keep Struggle (Season 2)

Mungkin pada coretan sebelumnya gue udah cerita banyak tentang perjuangan gue mencari profesi pada triwulanpertama pasca gue meraih gelar sarjana. Beberapa perusahaan udah gue coba jajaki dari pintu ke pintu, gerbang ke gerbang, resepsionis ke resepsionis walaupun semuanya pada memalingkan muka. Kemungkinan ada dua faktor. Pertama, kemampuan gue yang ga lulus kualifikasi?. Kedua, mungkin wajah gue yang masih jauh di bawah standar? Ya, gue harus ke korea atau mungkin ke thailand!  Gue udah banyak ngehadapin yang namanya HRD. Ya, mulai dari HR yang cantik sampe bulukan, yang ramah sampe yang yang galak, yang langsing sampe yang gendut, yang berwibawa sampe yang labil, semua udah gue rasain, beda rasa! But, the battle has not over yet.
Hingga sampai detik dimana gue nulis saat ini, gue masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Gue labil dalam segala hal, tapi tidak untuk asmara. Masih ada yang setia di sisi gue saat ini, aciyeeeeh! Level status kepengangguran gue hampir mencapai titik attentuation, kalo diibaratkan gunung berapi gue udah sampe kepada awas 2 atau diibaratkan penyakit kronis stadium 3. Walau demikian, gue tetap optimistis dan terus berusaha dan berdoa tentunya. Karena gue adalah mario teguh, jadi begitu!
Sahabat yang super sekali, gue bakal lanjutin cerita-cerita kegagalan gue yang kadang berakhir tragis dalam memperjuangkan tujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih layak.
Bank BRI. PT Bank Rakyat Indonesia. Gue cukup exited ketika bisa mengikuti seleksi di salah satu perusahaan BUMN ini. Gue ngelamar posisi sebagai Associate Auditor (AA) entah pekerjaan semacam apa itu, gue ga tau. Ini adalah kali keduanya percobaan gue untuk banting stir ke dunia perbankan setelah yang pertama di Bank BJB. Pasca kegagalan gue pada perusahaan yang posisi kerjanya di pabrik (teknisi pabrik). Bedanya adalah gue bener-bener exited untuk bisa bergabung di Bank ini karna gue sangat tertarik sama perusahaan ini sejak kecil dulu. Awal maret gue dipanggil buat tes kemampuan dasar, ya seperti psikotest awal gitu. Awalnya gue terancam ga bakal bisa ngikutin tes karna jadwalnya bentrok sama hari nikahan kaka sepupu gue. Melalui perjuangan dan manajemen kegiatan yang cukup alot,  akhirnya gue tetap maksain datang walau sempat telat setengah jam. Everything  is okay, walaupun sebenarnya perut gue keroncongan gara-gara gue belum sempat makan dari pagi. Gue tes di pusdiklat BRI yang di daerah ragunan, walaupun ga optimal tapi gue tetap berusaha apapun hasilnya. Alhasil, seminggu kemudian gue lolos ke tahap selanjutnya, wawancara pendahuluan dengan pihak managerial dari BRI. Wawancara pendahuluan ini diadakan di kantor inspeksi BRI jakarta di jalan otista cawang. Gue diwawancara oleh dua orang manager BRI Gue mencoba untuk wawancara sepercaya diri mungkin. Gue tetap optimis dan penuh percaya diri walau pada kenyataannya gue dibantai saat wawancara sama dua orang manager tersebut. Pada awalnya wawancara berjalan seperti biasanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang umum saat wawancara, namun kemudian suasana menjadi semakin kidmat ketika si bapak yang satunya mulai berceramah dan nasehatin gue. Satu hal yang gue rasa paling lucu atau bodoh adalah ketika gue curhat masalah hobby baru gue bercocok tanam (nanam cabe di depan rumah). Apa hubungannya jadi auditor bank sama bercocok tanam? Cacad! Sebenarnya ada beberapa hal pelajaran yang gue dapat ketika wawancara, tentunya itu adalah masukan dari kedua manager tersebut. Satu, kejujuran itu begitu berharga, jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. Be your self and be honest, itulah kuncinya. Kalo memang kita tidak tau sebaiknya bilang tidak tau dari pada harus sok tau dan salah. Kedua, keep focus to your passion. Di sinilah gue mulai tersadar dan mulai introspeksi diri. Totalitas itu penting, jangan melakukan sesuatu hal setengah-setengah. Itu yang menjadi kelemahan gue selama ini. Gue pengen menguasi segala hal tapi gue belum bisa total dalam satu hal. Selesai wawancara pendahuluan, gue lolos ke psikotest lengkap (melengkapi psikotest lebih tepatnya). Pada tes ini kencerungan aspek yang dinilai adalah psikologis. Hanya ada tes PAULI dan kepribadian. Gue begitu optimis dengan hasil tahap ini karna gue udah beberapa kali lolos psikotest. Namun kenyataan berbeda, gue gagal pada tahap ini dan tidak bisa lanjut ke 2 tahap terakhir. I failed again, bro !
PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Ada secercah harapan buat gue ketika gue diundang untuk mengikuti seleksi pegawai di perusahaan telekomunikasi yang berlabel BUMN ini. Gue begitu antusias dan sangat bersemangat untuk mengikuti seleksi di sini. Bekerja di telkom adalah sesuatu yang sudah gue cita-citain sejak kecil dan inilah tujuan utama gue. Secara gitu men, BMUN gitu loh! Gue mengikuti seleksi penerimaan pegawai telkom untuk daerah seleksi Bandung. Sambil menyelam minum air, sambil tes pekerjaan ngapelin si pacar, aciyeeeeeh! Semua tahapan tes di laksanakan di bandung tepatnya pudsiklat telkom yang di geger kalong bandung, tempat gue kerja praktek sewaktu masih kuliah. Ya, sedikit bernostalgia lah dengan tempat ini. Ada beberapa rangkaian tes yang harus dilalui untuk menjadi karyawan telkom, diantaranya seleksi administrasi, psikotes, TOEFL dan FGD, Wawancara dan tes kemampuan, dan medical chekup. Tahap kedua dari rangkaian seleksi adalah psikotest. Pada tahap ini ada sekitar 500 peserta yang mengikuti tes. Setelah mengikikuti tes dan menunggu sekitar 3 minggu, gue lolos ke tahap kedua dari 4 rangkaian tes. Gue lanjut ke tes TOEFL dan Focus Group Discussion (FGD) dengan sisa peserta sekitar 200 orang. Ini adalah tahapan yang cukup berat karna dari informasi yang gue dapat, minimal gue harus bisa mencapai nilai 500 untuk ITP TOEFL. It’s not easy but I keep in striving. Pada FGD, gue optimis dengan hasilnya. Ini saat dimana gue bisa mengimplementasikan pengalaman organisasi yang menjadi salah satu faktor gue telat lulus waktu di kampus. Namun demikian, berbeda halnya dengan TOEFL. ITP TOEFL ga seindah UN bahasa inggris atau TOEFL prediction. Gue rapuh di sini. gue menyadari kalo kemampuan gue masih jauh di bawah standar dan frekuensi latihan gue juga sangat minim. 3 minggu lamanya gue menunggu kabar dari telkom penuh rasa cemarap, cemas tapi berharap. Akhirnya setelah menunggu selama 3 minggu hasil tes diumumkan. Dari 200 orang yang mengikuti tes tahap dua hanya 100 orang yang lolos dan nama gue ga masuk ke dalam 100 orang itu. Gagal, I failed again and it’s really hurt me
PT Lintas Telekomunikasi Indonesia. I decide to apply a job just for telecommunication company and telecommunication or IT position. Gue apply ke Sebuah perusahaan yang menyedia layanan telekomunikasi (sub kontraktor). Ada cerita menjengkelkan dari pengalaman gue di sini. Seperti biasanya setia ada panggilan tes atau wawancar gue selalu bertanya pada mbah google mengenai lokasi tes dan akses kendaraan umum ke sana. Akhirnya gue nemu aksek kendaraan umum ke sana. Gue naik KRL dari bogor dan turun di cawang. Setelah dari cawang tingaal jalan 200 meter menuju gedung menara MTH. Sesampainya gue di stasiun cawang, gue tanya ke satpam dimana lokasinya. Dengan gaya penuh keyakinan si satpam nyuruh gue jalan ke arah kanan. Oke, fix gue jalan ke arah kanan dari stasiun. Setelah berjalan 500 meter, gue ga kunjung nemuin itu gedung. Gue coba tanya sama orang di jalan ternyata dia juga ga tau, hingga gue sampai ke persimpangan arah pancoran. Gue tanya sama pedangan kaki lima si sana. Katanya gue salah ambil arah, ke arah sana adalah MTH square, sedangkan menara MTH itu ke kanan dari arah stasiun. Bete sumpah! Well, Gue ngelamar sebagai junior acces engineer di sana. Ya, sebagai tukang install jaringan berbasis optic fiber gitu. Gue langsung dipanggil wawancara sama user. Sebenarnya gue yakin bakal diterima di sini karna gue punya pengetahuan tentang teknologi di posisi ini meski gue belum punya experience di sini. Pada wawancara user ini gue dijelasin mengenai scope of work posisi gue dan hapir 90% gue ngerti. Setelah selesai wawancara user, beliau bilang tunggu informasi wawancara HRD, jika deal, kita bisa langsung joiin katanya. Oke berhari-hari gue tunggu setelah 3 minggu ga ada kabar, gue telpon perusahaan itu lagi ternyata gue belum berhasil. I failed again.
Mungkin itulah kegagalan-kegalan yang gue alami 3 bulan belakangan dan gue masih menunggu kejutan-kejutan kegagalan berikutnya. Ada beberapa perusahaan yang gue ga sempat interview karna jadwalnya bentrok yaitu indovision (mnc sky vision) sebagai field engineer, but, sepertinya belum jodoh.
Dibalik kegagalan gue selalu mencoba mengambil hikmah dan pelajaran dari sana. Gue masih akan tetap berusaha semaksimal mungkin. Semakin sering gue terjatuh, semakin cepat langkah gue untuk terus berlari mengajar ketertinggalan. Agar tetap selamat ketika terjatuh, gue bawa kotak P3K. Tetap semangat, masbro !



3 komentar:

  1. Titanium Gold | The Art of Art - The Art of Art at The Art of Art
    This project was created on titanium damascus January 4, 2012, by a group of renowned artists on The Art of Art titanium engagement rings for her at The Art 2018 ford ecosport titanium of Art at The Art of Art titanium earrings sensitive ears at The Art of titanium cookware

    BalasHapus