Keep Struggle (Season 2)
Mungkin pada coretan
sebelumnya gue udah cerita banyak tentang perjuangan gue mencari profesi pada triwulanpertama pasca gue meraih gelar sarjana. Beberapa perusahaan udah gue coba
jajaki dari pintu ke pintu, gerbang ke gerbang, resepsionis ke resepsionis walaupun
semuanya pada memalingkan muka. Kemungkinan ada dua faktor. Pertama, kemampuan
gue yang ga lulus kualifikasi?. Kedua, mungkin wajah gue yang masih jauh di
bawah standar? Ya, gue harus ke korea atau mungkin ke thailand! Gue udah banyak ngehadapin yang namanya HRD. Ya,
mulai dari HR yang cantik sampe bulukan, yang ramah sampe yang yang galak, yang
langsing sampe yang gendut, yang berwibawa sampe yang labil, semua udah gue
rasain, beda rasa! But, the battle has
not over yet.
Hingga sampai detik dimana gue nulis saat ini, gue masih
dalam kondisi yang memprihatinkan. Gue labil dalam segala hal, tapi tidak untuk
asmara. Masih ada yang setia di sisi gue saat ini, aciyeeeeh! Level status
kepengangguran gue hampir mencapai titik attentuation, kalo diibaratkan gunung
berapi gue udah sampe kepada awas 2 atau diibaratkan penyakit kronis stadium 3.
Walau demikian, gue tetap optimistis dan terus berusaha dan berdoa tentunya.
Karena gue adalah mario teguh, jadi begitu!
Sahabat yang super
sekali, gue bakal lanjutin cerita-cerita kegagalan gue yang kadang berakhir
tragis dalam memperjuangkan tujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih layak.
Bank
BRI.
PT Bank Rakyat Indonesia. Gue cukup exited
ketika bisa mengikuti seleksi di salah satu perusahaan BUMN ini. Gue ngelamar
posisi sebagai Associate Auditor (AA) entah pekerjaan semacam apa itu, gue ga
tau. Ini adalah kali keduanya percobaan gue untuk banting stir ke dunia
perbankan setelah yang pertama di Bank BJB. Pasca kegagalan gue pada perusahaan
yang posisi kerjanya di pabrik (teknisi pabrik). Bedanya adalah gue bener-bener
exited untuk bisa bergabung di Bank
ini karna gue sangat tertarik sama perusahaan ini sejak kecil dulu. Awal maret
gue dipanggil buat tes kemampuan dasar, ya seperti psikotest awal gitu. Awalnya
gue terancam ga bakal bisa ngikutin tes karna jadwalnya bentrok sama hari
nikahan kaka sepupu gue. Melalui perjuangan dan manajemen kegiatan yang cukup alot,
akhirnya gue tetap maksain datang walau
sempat telat setengah jam. Everything is okay, walaupun sebenarnya perut gue
keroncongan gara-gara gue belum sempat makan dari pagi. Gue tes di pusdiklat
BRI yang di daerah ragunan, walaupun ga optimal tapi gue tetap berusaha apapun
hasilnya. Alhasil, seminggu kemudian gue lolos ke tahap selanjutnya, wawancara
pendahuluan dengan pihak managerial dari BRI. Wawancara pendahuluan ini
diadakan di kantor inspeksi BRI jakarta di jalan otista cawang. Gue diwawancara
oleh dua orang manager BRI Gue mencoba untuk wawancara sepercaya diri mungkin.
Gue tetap optimis dan penuh percaya diri walau pada kenyataannya gue dibantai
saat wawancara sama dua orang manager tersebut. Pada awalnya wawancara berjalan
seperti biasanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang umum saat wawancara, namun
kemudian suasana menjadi semakin kidmat ketika si bapak yang satunya mulai
berceramah dan nasehatin gue. Satu hal yang gue rasa paling lucu atau bodoh
adalah ketika gue curhat masalah hobby baru gue bercocok tanam (nanam cabe di depan
rumah). Apa hubungannya jadi auditor bank sama bercocok tanam? Cacad!
Sebenarnya ada beberapa hal pelajaran yang gue dapat ketika wawancara, tentunya
itu adalah masukan dari kedua manager tersebut. Satu, kejujuran itu begitu
berharga, jujur pada diri sendiri dan pada orang lain. Be your self and be
honest, itulah kuncinya. Kalo memang kita tidak tau sebaiknya bilang tidak tau
dari pada harus sok tau dan salah. Kedua, keep
focus to your passion. Di sinilah gue mulai tersadar dan mulai introspeksi
diri. Totalitas itu penting, jangan melakukan sesuatu hal setengah-setengah.
Itu yang menjadi kelemahan gue selama ini. Gue pengen menguasi segala hal tapi
gue belum bisa total dalam satu hal. Selesai wawancara pendahuluan, gue lolos
ke psikotest lengkap (melengkapi psikotest lebih tepatnya). Pada tes ini
kencerungan aspek yang dinilai adalah psikologis. Hanya ada tes PAULI dan
kepribadian. Gue begitu optimis dengan hasil tahap ini karna gue udah beberapa
kali lolos psikotest. Namun kenyataan berbeda, gue gagal pada tahap ini dan
tidak bisa lanjut ke 2 tahap terakhir. I failed
again, bro !
PT
Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Ada secercah harapan
buat gue ketika gue diundang untuk mengikuti seleksi pegawai di perusahaan
telekomunikasi yang berlabel BUMN ini. Gue begitu antusias dan sangat
bersemangat untuk mengikuti seleksi di sini. Bekerja di telkom adalah sesuatu
yang sudah gue cita-citain sejak kecil dan inilah tujuan utama gue. Secara gitu
men, BMUN gitu loh! Gue mengikuti seleksi penerimaan pegawai telkom untuk
daerah seleksi Bandung. Sambil menyelam minum air, sambil tes pekerjaan
ngapelin si pacar, aciyeeeeeh! Semua tahapan tes di laksanakan di bandung
tepatnya pudsiklat telkom yang di geger kalong bandung, tempat gue kerja
praktek sewaktu masih kuliah. Ya, sedikit bernostalgia lah dengan tempat ini.
Ada beberapa rangkaian tes yang harus dilalui untuk menjadi karyawan telkom,
diantaranya seleksi administrasi, psikotes, TOEFL dan FGD, Wawancara dan tes
kemampuan, dan medical chekup. Tahap kedua
dari rangkaian seleksi adalah psikotest. Pada tahap ini ada sekitar 500 peserta
yang mengikuti tes. Setelah mengikikuti tes dan menunggu sekitar 3 minggu, gue
lolos ke tahap kedua dari 4 rangkaian tes. Gue lanjut ke tes TOEFL dan Focus
Group Discussion (FGD) dengan sisa peserta sekitar 200 orang. Ini adalah
tahapan yang cukup berat karna dari informasi yang gue dapat, minimal gue harus
bisa mencapai nilai 500 untuk ITP TOEFL. It’s
not easy but I keep in striving. Pada FGD, gue optimis dengan hasilnya. Ini
saat dimana gue bisa mengimplementasikan pengalaman organisasi yang menjadi
salah satu faktor gue telat lulus waktu di kampus. Namun demikian, berbeda halnya
dengan TOEFL. ITP TOEFL ga seindah UN bahasa inggris atau TOEFL prediction. Gue rapuh di sini. gue
menyadari kalo kemampuan gue masih jauh di bawah standar dan frekuensi latihan
gue juga sangat minim. 3 minggu lamanya gue menunggu kabar dari telkom penuh
rasa cemarap, cemas tapi berharap. Akhirnya setelah menunggu selama 3 minggu
hasil tes diumumkan. Dari 200 orang yang mengikuti tes tahap dua hanya 100
orang yang lolos dan nama gue ga masuk ke dalam 100 orang itu. Gagal, I failed again and it’s really hurt me
PT
Lintas Telekomunikasi Indonesia. I decide to apply a job just for telecommunication company and
telecommunication or IT position. Gue apply
ke Sebuah perusahaan yang menyedia layanan telekomunikasi (sub kontraktor).
Ada cerita menjengkelkan dari pengalaman gue di sini. Seperti biasanya setia
ada panggilan tes atau wawancar gue selalu bertanya pada mbah google mengenai
lokasi tes dan akses kendaraan umum ke sana. Akhirnya gue nemu aksek kendaraan
umum ke sana. Gue naik KRL dari bogor dan turun di cawang. Setelah dari cawang
tingaal jalan 200 meter menuju gedung menara MTH. Sesampainya gue di stasiun
cawang, gue tanya ke satpam dimana lokasinya. Dengan gaya penuh keyakinan si
satpam nyuruh gue jalan ke arah kanan. Oke, fix gue jalan ke arah kanan dari
stasiun. Setelah berjalan 500 meter, gue ga kunjung nemuin itu gedung. Gue coba
tanya sama orang di jalan ternyata dia juga ga tau, hingga gue sampai ke
persimpangan arah pancoran. Gue tanya sama pedangan kaki lima si sana. Katanya
gue salah ambil arah, ke arah sana adalah MTH square, sedangkan menara MTH itu
ke kanan dari arah stasiun. Bete sumpah! Well,
Gue ngelamar sebagai junior acces
engineer di sana. Ya, sebagai tukang install jaringan berbasis optic fiber gitu. Gue langsung dipanggil
wawancara sama user. Sebenarnya gue
yakin bakal diterima di sini karna gue punya pengetahuan tentang teknologi di
posisi ini meski gue belum punya experience
di sini. Pada wawancara user ini gue dijelasin mengenai scope of work posisi gue dan hapir 90% gue ngerti. Setelah selesai
wawancara user, beliau bilang tunggu informasi wawancara HRD, jika deal, kita
bisa langsung joiin katanya. Oke berhari-hari gue tunggu setelah 3 minggu ga
ada kabar, gue telpon perusahaan itu lagi ternyata gue belum berhasil. I failed again.
Mungkin itulah
kegagalan-kegalan yang gue alami 3 bulan belakangan dan gue masih menunggu
kejutan-kejutan kegagalan berikutnya. Ada beberapa perusahaan yang gue ga
sempat interview karna jadwalnya bentrok yaitu indovision (mnc sky vision)
sebagai field engineer, but, sepertinya belum jodoh.
Dibalik kegagalan gue
selalu mencoba mengambil hikmah dan pelajaran dari sana. Gue masih akan tetap
berusaha semaksimal mungkin. Semakin sering gue terjatuh, semakin cepat langkah
gue untuk terus berlari mengajar ketertinggalan. Agar tetap selamat ketika
terjatuh, gue bawa kotak P3K. Tetap semangat, masbro !


Keren...
BalasHapusThanks,, :)
BalasHapusTitanium Gold | The Art of Art - The Art of Art at The Art of Art
BalasHapusThis project was created on titanium damascus January 4, 2012, by a group of renowned artists on The Art of Art titanium engagement rings for her at The Art 2018 ford ecosport titanium of Art at The Art of Art titanium earrings sensitive ears at The Art of titanium cookware