Okesip !
mungkin ini adalah coretan gue yang ke-5. Ya, coretan kelima tentang campur aduk fenomena kehidupan gue yang kadang ga keprediksi dan bahkan ga keidentifikasi bagaimana cerita itu bisa terjadi.
Mungkin orang-orang ga bakal percaya kalo saat gue nulis coretan ini gue lagi berada di koordinat
perpustakaan kampus. Bahkan gue sendiri juga ga tau knapa tiba-tiba ditengah keramaian sepi perpus ini muncul secuil ide yang ukurannya mungkin ga jauh lebih besar dari secuil upil yang gue ga tau knapa selalu muncul di pagi hari di hidung gue, bahkan gue sempat-sempatnya berfikir kalo mungkin upil dan hidung gue itu adalah the real true love ! gue punya alasan yang kuat knapa gue bisa ngomong kayak gitu, itu semua karna walaupun mereka udah gue pisahin setiap harinya tapi mereka tetap selalu bersama kembali. mungkin ini bisa dijadiin sebuah panutan bagi pasangan-pasangan yang ingin hidup bersama slamanya karna menurut gue, "love is like a noose and "upil", which is keep together each other".
well, gue kembali bicara tentang ide. Kadang gue berfikir ide itu selalu muncul secara "random". Ide-ide gue merupakan unpredictable ideas. Gue masih ingat kapan terakhir ide cemerlang gue muncul. itu adalah ketika gue lagi menikmati boker di kamar mandi. Ga tau kanapa kamar mandi bagi gue merupakan the inspiring place that not only make me relax but also give me a thousands idea. Tapi sekarang gue nemuin tempat baru yang lebih epict buat gue, tempat yang lebih manusiawi untuk melahirkan ide, That is "perpus".
Kalo gue coba-coba flashback lagi ke masa-masa silam dimana gue seolah-olah hidup pada zaman Palaeolithikum gitu, perpus memiliki banyak sejarah dalam kehidupan gue yang mungkin ga bisa gue hapus begitu saja. Dimulai dari waktu gue masih SMP, perpus menjadi sebuah tempat yang ga cuma ngajarin gue tentang ilmu pengetahuan tapi juga ngajarin gue tentang arti hidup yang sesungguhnya. Ketika berada diperpus gue ngerasa seperti sun go kong yang tengah terpenjara di dasar gua gunung tinggi tempat hukuman para dewa gitu. Gue selalu ngambil hikmah dari setiap detik keberadaan gue di sana.
kalo gue berfikirnya rada smart saat ini, akhirnya gue sadar kenapa gue begitu antusias saat itu ke perpustakaan sekolah, itu semua karena saat itu gue naksir sama kakak penjaga perpus ! tiba-tiba otak gue yang ga simetris ini menvisualisasikan sebuah adegan dari film Ada Apa dengan Cinta (ADDC) yang waktu itu lagi booming banget seantero indonesia. gue ngebayangin gimana adegan ketika si rangga marah-marah sama si cinta yang berujung kepada cinta juga terjadi pada diri gue. Hati kecil gue bilang : "wahai diki, dan apabila ketika engkau menemukan seseorang yang menggetarkan hatimu, kejarlah ! sesungguhnya tiada engkau akan menemukan kebahagiaan jika tanpa perjuangan cinta"
Dan ternyata bisikan itu benar-benar menjadi sebuah ilham bagi gue untuk berjuang demi cinta ! dan berjuangan pun akan segera dimulai. Hari demi hari, minggu dan bulanpun berlalu gue terus berjuang detik demi detik dan pada akhirnya ketika gue sadar semua sia-sia. Pada akhirnya gue nyerah ! Gue mencoba move dengan memutuskan ga akan pernah lagi berkunjung ke perpus sekolah. sedih!
Kada kalo sejenuk gue berfikir rada bijak, gue ngerasa perpustakaan ini adalah surganya dunia. Kanapa? karna di sana semuanya ada, semua yang dibutuhin ada mulai dari ilmu sosial, sains, bahasa, seni, tapi bukan untuk cinta, karan gue belum pernah nemuin buku-buku tentang cinta, padahal menurut gue harusnya itu ada, demi upaya menurunkan laju pertumbuhan jumlah jomblo-jomblo yang semakin lama semakin meningkat.
Satu yang paling gue ga suka dari perpustakaan, mulai dari SMP sampai gue di jenjang kuliah yang sampai saat ini masih berkutat dengan skripsi yang tak kunjung usai, gue ga pernah jauh dengan yang namanya "DENDA PUSTAKA" . Kalo saat masih sekolah gue harus bayar denda tiap semester, selama kuliah hampir setiap pinjam buku pasti kena denda gara-gara telat ngembaliin buku. Tapi sebagai seorang calon dermbangsih gmawan gue mencoba memandang dari sisi berbeda, itu adalah bentuk kecil dari kontribusi dan sumbangsih serta benbentuk rasa kepedulian gue terhadap pendidikan.
anyway, apapun hal terburuk yang sering gue alami bersama pustaka, gue tetap berpandangan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat yang berpotensi menjadi gudang ilmu, tetapi juga sebagai gudang cinta,,

0 komentar:
Posting Komentar